Ada banyak alasan fasilitas komentar dibuat di situs-situs berita, banyak alasan pula komentar-komentar itu pada akhirnya dibaca oleh pembaca berita.


Sudah sejak lama saya tidak lagi mengikuti situs berita berinisial D, kecuali emang terpaksa, disebabkan komentar-komentar pembacanya yang sangat tidak bermutu, kasar, dan aneh-lah pokoknya, ditambah pemberitaannya, yang waktu itu banyak yang terkesan seada-adanya buat saya.

Akhirnya pindahlah saya ke situs berita K, namun beberapa saat belakangan, sepertinya K pun mengalami masalah yang sama. Bukan apa-apa, jika situs-situs ‘terkemuka’ tersebut membuka situsnya untuk dimasuki oleh troll, membacanya jadi kurang sreg, antara kenyataan, pendapat, gosip, fitnah, campur baur, terkesan kumuh seperti lalu lintas disini. Apalagi jika kuantitas komentar akan menentukan suatu berita masuk di daftar ‘terpopuler’ atau ‘terkomentari’. Kecuali, yah, emang ga penting sih masalah komen-komen itu juga hehehe…

Ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati agar supaya postingan di blog ini bertambah satu (eh…):

1. Flaming oleh troll
Jenis-jenis komentar yang ‘offensive’, Flame Bait yang kemudian mengarah menjadi flame Wars itu sebenarnya bukan barang baru di internet, apalagi yang menyinggung masalah agama, wush wush.
Ketika ada flame bait, ada 2 jenis komentar yang paling males bacanya:
– komentar yang balik menghina si troll (kena jebak)
– komentar yang mencoba membantah, tapi dibelakangnya buntutnya juga menghina si troll (kena jebak juga)
Entah apakah mereka tidak sadar bahwa mereka itu sedang dijebak oleh si troll itu…
Mungkin aturan simpelnya gini, komentar yang meng-komentari komentar lainnya itu udah masuk ranah forum. Contoh yang baik adalah situs berita V, mereka membuat sub-site forum tersendiri untuk komunitasnya. Atau situs kantor berita A, yang nampaknya benar2 menseleksi komentar yang masuk dan tidak membuka semua berita untuk dikomentari.

Moderator situs tersebut seharusnya lebih ketat lagi karena komentar-komentar itu menjadi bagian dari halaman beritanya. Atau solusi lain, ada semacam headline buat komentar, jadi komentar yang sudah ditandai ok bisa masuk di bagian komentar, sementara komentar-komentar lainnya bisa dibuka di window sendiri, terpisah dari artikelnya.

2. Micro-commenting
Kesukaan memberi komentar satu-dua baris, mari kita sebut ini sebagai fenomena micro-commenting kecuali kalau kelasnya situs blogging atau situs berita yang niche seperti ini mungkin tidak masalah. Twitter, Facebook, dan news aggregator sebenarnya membantu memecahkan masalah kedua ini, alih-alih komentar di artikel aslinya, orang-orang bisa mengkomentari artikel diantara jaringan mereka sendiri.

3. Jenis2 Komentar yang “provocative” menurut saya
– Object berita, pokoknya asal ada berita apa, pasti langsung bisa ditebak komentar2 yang ga jelas
– Generalisasi dari judul tanpa melihat isi berita
– Menyinggung ajaran agama, padahal beritanya apa
– Menyinggung negara tetangga itu, padahal beritanya apa
– …

Ya memang setiap orang mau berkomentar seperti apa itu adalah haknya dan kita juga sebenarnya bebas ingin mengikuti berita dari sumber yang mana…

oya satu lagi, “ga usah komen klo lu ga tau masalahnya!”😉

tautan luar:
internet troll
internet flaming