Aku keluar dari kamar mandi, tiba – tiba terdengar suara langkah sesuatu di langit – langit rumah kontrakan yang kutinggali. Aku terdiam, ku pasang telinga dengan seksama. Ini bukan tikus, langkahnya terlalu berwibawa untuk seekor tikus.

“Pasti kucing, ya pasti kucing”, pikirku.

“Langkah itu langkah binatang berkaki empat”. Entah kenapa di pikiranku terbayang seekor kucing liar di pinggir jalan dengan perut cekung melangkah lemah. Mirip langkah di langit – langit ini.

Aku masih memasang telingaku ketika langkah itu sampai di langit – langit kamar kosong di sebelah ruang tengah dan kamar mandi, sekedar untuk memastikan. Tapi…tiba – tiba terdengar suara “sreettt”. Pemilik langkah itu menyeret sesuatu.

“Masak kucing menyeret sesuatu?” pikirku penasaran dan mulai timbul rasa takut. Adegan dalam film horor terlintas di pikiranku.

“Sreettt…” suara seretan itu terdengar lagi. Dan rasa takut semakin tebal.

Kalau ada tangga, aku bisa meliat apa sebenarnya yang ada di langit – langit itu melalui salah satu eternit yang jebol sejak sebelum aku tinggal di rumah ini. Tapi untung saja tidak ada tangga. Menemukan alasan untuk tidak melawan rasa takut selalu melegakan.

Aku berangkat ke kantor dan pikiran itu tak lagi mengganggu. Dua hari kemudian, ketika aku membersihkan halaman rumah dari rumput dan tanaman merambat yang tumbuh liar, aku melihat seekor induk kucing dan 3 ekor anaknya yang tampaknya masih baru saja bisa berjalan. Mereka bersantai di bawah pot besar. Seekor anak kucing menatapku. Induknya mengalungkan salah satu kakinya di badan anak kucing itu untuk mencegahnya mengikuti rasa ingin tahunya. Aku lambaikan tangan ke mereka kemudian melanjutkan pekerjaanku.