Seiring dengan digulingkannya Mossadegh sebagai Perdana Menteri Iran oleh AS lewat operasi Ajax yang tersohor itu, dimulailah era baru pemerintahan Iran yang pro-AS dipimpin oleh Reza Pahlevi atau biasa disebut Syah. Seperti biasa, hak pengeboran minyak bumi menjadi milik AS dan Inggris. Sebagai imbalannya, pemerintahan Syah Reza Pahlevi pun mendapat sokongan tanpa henti dari negara adidaya tersebut. Era demokrasi ala Paman Sam ini bukan tanpa konsekuensi. Iran yang secara langsung berbatasan dengan Uni Sovet kala itu, mau tidak mau ikut terlibat dalam panasnya perang dingin.

Aktivitas mata-mata Uni Sovyet kala itu sangat meresahkan pemerintahan Kerajaan Iran. Perbatasan daerah utara mereka seringkali disusupi oleh pesawat tempur MIG-25R keluaran terbaru Uni Sovyet yang kala itu setingkat lebih canggih dari pesawat tempur F-4D Phantom II bikinan AS yang menjadi standar AU Iran saat itu.

Pemerintah Iran saat itu menyatakan ketertarikannya dengan Pesawat Tempur F-IIIB yang masih dalam pengembangan. Dalam kelanjutannya F-111B tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Alih-alih, Grumman Corporation menawarkan F-14 Tomcat kepada pemerintah Iran.

F-14 didesain sebagai “Pembunuh MIG”. Pesawat ini dirancang lebih besar dari Pesawat Tempur pada umumnya, walaupun bongsor namun tetap cepat dan kuat sebagai Pesawat Tempur. Sayapnya mampu secara otomatis dikepak antara 14 hingga 68 derajat untuk meningkatkan keluwesan dalam terbang. Sungguh cocok dan mematikan untuk melawan MIG yang kecil namun kaku.

Dimulailah kontrak “Raja Persia” antara Kerajaan Iran dengan pemerintah AS senilai 300 milyar dolar AS pada tanggal 7 Januari 1974 dengan pengiriman paket pertama sebanyak 30 unit F-14 diikuti dengan perngiriman 50 unit lagi pada beberapa bulan kemudian, lengkap dengan amunisi rudal AIM-54A dan rudal Phoenix. Total tagihan kontrak “Raja Persia” ini sebanyak 2 bilyun dolar AS, ini tercatat sabagai penjualan alat militer pada negara asing yang terbesar dalam sejarah militer AS.

Proyek F-14 terancam gulung tikar seiring dengan penghentian dana pengembangan programnya oleh kongres AS pada bulan Agustus 1974. penghentian dana ini tak ayal karena F-14 dinilai sebagai proyek prestisius yang mewah dan kelewat mahal untuk sebuah pesawat petempur murni. Ketika Grumman Corporation berada di ambang kebangkrutan, Syah, melalui bank Iran, menyuntikkan modal kepada Grumman agar dapat terus melanjutkan proyek tersebut, dan proyek tersebut pun kembali berjalan.

Benar-benar sungguh di luar dugaan. Bahkan mungkin di luar dugaan para ahli politik dan intelijen AS saat itu. Pemerintahan Kerajaan Iran yang pro-AS tiba-tiba digulingkan oleh pemerintahan Revolusioner Islam Iran. Iran yang semula sekutu kini menjadi musuh utama AS. Dan celakanya, peralatan militer Iran buatan AS yang selama ini diinvestasikan untuk melawan Uni Sovyet, kini berada di tangan musuh AS, tidak terkecuali F-14 milik Iran. Seiring dengan berjalannya revolusi, banyak pilot-pilot F-14 Iran ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena dugaan makar. Hal ini tidak lain karena stigma yang terlanjut melekat bahwa para pilot F-14 Iran banyak yang mempunyai ikatan emosional dengan Syah, hal ini tidak lain karena proyek F-14 didukung utamanya oleh Syah secara pribadi, dan para pilot tersebut khusus dilatih di AS sebagai penerbang F-14 atas rekomendasi penuh dari sang Syah sendiri. Jika saja tidak ada invasi Iraq pada bulan Oktober dan November 1980, mereka mungkin tidak akan hidup lebih lama dari itu.

Revolusi Iran secara nyata banyak menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat internasional, dan hal itu benar-benar dimanfaatkan betul oleh Saddam Hussein untuk menginvasi bagian barat Iran. Ibarat memancing di air keruh, militer Iraq secara mengejutkan menginvasi bagian barat Iran tanpa memberi kesempatan bagi angkatan bersenjata Iran kala itu untuk bersiap. Hal ini justru menimbulkan sentimen anti Iraq pada rakyat Iran. Semula sebagaian diantara mereka meragukan pemerintahan Revolusi Islam yang baru, namun keraguan itu terkalahkan oleh kebencian mereka terhadap Iraq yang memenfaatkan kesempatan pengalihan kekuasaan di Iran untuk menginvasi negara mereka. Dan rakyat Iran pun bersatu untuk mengusir penjajah dari tanah mereka.

Satu hal yang menjadi kekhawatiran Ayatullah Khomeini saat itu, bahwa Iraq seringkali meluncurkan rudal Scud dengan menarget daerah padat penduduk. Teknologi misil jarak jauh yang saat itu menjadi kelemahan Iran, berusaha untuk mereka balas dengan pengaktifan kembali skuadron F-14 mereka. Pilot-pilot F-14 mereka pun mereka panggil kembali ke landasan, tentunya setelah melewati ‘rehabilitasi ideologi’ untuk memantapkan loyalitas mereka pada pemerintahan yang baru.

Pengaktifan kembali program F-14 tidak sia-sia. Dikarenakan superioritas F-14, Angkatan Udara Iraq selalu gagal untuk mendapatkan Air Superiority di kawasan udara Iran. Operasi-operasi taktis yang melibatkan mata-mata (reconnaisance) dan pengeboman lewat udara menjadi sia-sia. Saking canggih dan kuatnya, seingkali satu unit F-14 bisa menghadapi tiga hingga empat pesawat tempur sekaligus. Kebanyakan lawan yang dihadapi adalah varian MIG buatan Sovyet, namun seiring dengan berjalannya perang Iraq-Iran (seringkali dalam pelajaran sejarah SMU, disebut Perang Teluk I), Iraq juga membeli dan mengoperasikan berbagai macam jenis pesawat, mulai dari Sukhoi, Tupolev tipe bomber, hingga Mirage buatan Prancis. Dalam catatan pertempuran, tidak ada tipe pesawat yang dioperasikan AU Iraq yang bisa mengungguli atau setidaknya menyamai F-14 dalam kemempuan bertempur (dog-fight) di udara. Berkat Air Superiority yang dicapai AU Iran, pertempuran pun berbalik. Iraq yang berada dalam wilayah Iran, kini harus mundur dan menghadapi ancaman invasi dari Iran hingga akhir perang tahun 1988.

Fakta ini sering dipandang sebelah mata oleh militer AS sendiri. Seringkali publik Amerika sendiri berusaha untuk mengacuhkan fakta bahwa mereka pernah menjual F-14, Pesawat Tempur tercanggih dan termahal pada masa itu, pada mantan teman, yang kini menjadi musuh terkuat mereka. Beberapa analis militer Amerika bahkan berusaha untuk menekankan akan jangka operasional F-14 yang sudah kadaluwarsa, yakin bahwa tanpa bantuan dari teknisi AU AS, perawatan F-14 tidak akan berjalan dan memaksanya untuk dihanggarkan. Namun pada kenyatannya, Iran dapat mengoperasikan dan melakukan perawatan, penggantian suku cadang, secara resmi atau bahkan melalu jalur gelap (seringkali suku cadang dari AS diselundupkan ke Iran melalui pihak ketiga, bahkan lewat Israel). Bagaimanapun juga, F-14 bisa jadi merupakan blunder terbesar di abad 20 bagi militer AS. Bahkan Israel sebagai sekutu terdekat AS pun tidak memiliki pesawat secanggih F-14 kala itu. Di dunia ini, hanya AS dan Iran yang tercatat pernah mengoperasikan F-14.

Total sebanyak 158 pesawat Iraq yang terkonfirmasi ditembak jatuh oleh F-14 Iran selama perang Iraq-Iran. Sebanyak 7 F-14 milik Iran yang ditembak jatuh, tiga diantaranya oleh Rudal SAM Iran dikarenakan oleh miskomunikasi /friendly fire (berarti hanya 4 yang berhasil ditembak jatuh oleh Iraq, selama kurun waktu perang!).

F-14 merupakan pesawat tempur utama yang digunakan dalam film Top Gun. F-14 juga menginspirasi anime jepang Super Dimension Fortress Macross.

Sumber:
Iranian F-14 Tomcat Units In Combat, Osprey Publishing, ISBN 1 84176 787 5
http://en.wikipedia.org/wiki/F-14