Berawal dari sebuah perenungan di suatu waktu di kelas ELTP milik Pak Michael Air, guru Bahasa Inggris kita, beliau membagikan secarik kertas yang berisikan beberapa kosakata-kosakata yang menurut dia sangat pantas untuk diketahui oleh murid-muridnya yang masih cupu itu. Setelah dipaksa menghapalkan alfabet morse khas Angkatan Laut Kerajaan Inggris, kini tiba giliran kita untuk “menghayati” beberapa istilah beken dalam dunia bajak laut kelautan negaranya Si Putri Diana ini.

Setelah semua peserta ELTP kebagian beberapa carik kertas, dilanjutkan dengan penghayatan beberapa lama, hingga akhirnya Pak Michael Air pun dengan tidak sabar menyela dan akhirnya memberikan arti dari istilah-istilah itu setelah melihat wajah kecupu-cupuan anak didiknya yang sok menghayati itu.

Dengan mata penuh kejenuhan, telingaku berusaha untuk menangkap satu demi persatu arti dari istilah-istilah kelautan itu yang mungkin saya tidak merasakan manfaatnya sampai sekarang (kecuali kalau saya mau jadi bajak laut ? Hmm, who knows😀 ). Tibalah akhirnya ketika kita membahas suatu kata yang bahkan tidak dimengerti oleh Mr. Air sendiri. Kata itu adalah “Nation of Shopkeepers”. “I don’t know what is really means, but I know what it means is England”, jawab Pak Michael Air. Yup, yang dimaksud dengan istilah “Negara Si Penjaga Toko” adalah Inggris.

Lho, koq bisa ? Kenapa Inggris disebut dengan Negara Si Penjaga Toko ? Apakah orang Inggris itu semuanya adalah penjaga toko ? Ternyata kata “Shopkeepers” sendiri itu sebenarnya adalah rancu. Kata itu sebenarnya berarti “Pemilik Toko” alias si juragan toko, bukan penjaga tokonya. Terlepas dari itu, sebenarnya banyak para pemilik toko yang secara langsung melayani pembeli, yang dimana hal ini membuat orang memiliki persepsi yang sama antara pemilik dan penjaga toko. Namun para ahli sependapat bahwa “Shopkeepers” sendiri merujuk kepada pemilik bisnis itu sendiri.

Well, kembali ke Inggris. Kembali ke pertanyaan semula, “Kenapa Inggris disebut dengan Negara Si Penjaga Toko ?”. Ternyata istilah “Nation of Shopkeepers” ini sebenarnya dahulu pernah diceploskan oleh Napoleon Bonaparte. “L’Angleterre est une nation de boutiquiers”, atau bahasa inggrisnya itu ya “Nation of Shopkeepers”. Napoleon menyebut Inggris dengan sebutan itu tidak lain adalah sebagai sebuah bentuk penghinaan terhadap musuh bebuyutan negaranya itu (Masalahnya adalah, apakah orang Inggris merasa terhina dengan julukan itu ?).

Menurut para ahli, istilah itu ternyata bukan pertamakali dicetuskan oleh Napoleon. Istilah ini ternyata dapat ditemukan di bukunya “Wealth of Nation” karya Adam Smith yang tersohor itu. Berikut ini adalah kutipannya :

To found a great empire for the sole purpose of raising up a people of customers may at first sight appear a project fit only for a nation of shopkeepers. It is, however, a project altogether unfit for a nation of shopkeepers; but extremely fit for a nation whose government is influenced by shopkeepers.”

Dunia Baru

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan “Nation of Shopkeepers” itu ? Dari apa yang saya dapat dari berbagai sumber, istilah itu sangat cocok untuk disandangkan pada Inggris yang notabene adalah salah satu negara kolonialis yang tersukses pada masa kolonialisasi. Semuanya bermula ketika Christoper Columbus menemukan Karibia, yang akhirnya memacu negara-negara Eropa macam Inggris, Prancis, Belanda, dan Spanyol untuk berlomba-lomba membuat koloni di Dunia Baru, begitu sebutan mereka.

Ketika negara lain semacam Belanda dan Spanyol yang masih menerapkan sistem Monopoli atas koloni-koloninya, Inggris malah dengan berani menerapkan Sistem Perdagangan Bebas di daerah koloninya, yang ternyata malah meningkatkan kemakmuran ekonomi koloninya, yang secara implisit berimbas pada derasnya kas pemasukan negeri Ratu Elizabeth itu. Secara sederhana, sistem perdagangan yang diterapkan oleh Inggris adalah : mendapatkan bahan mentah dari daerah koloni, mengimpornya ke negeri induk (Inggris) dan memproduksi barang jadi yang dijual kembali ke negara-negara koloninya. Yup, As Simple As That.

Nah, bagaimana para penduduk negara koloni bisa membeli baju produk Inggris jika mereka tidak punya uang ? Tidak seperti kompetitornya orang Belanda yang justru memaksa negara koloninya untuk memproduksi paksa bahan mentah tanpa imbalan yang sepadan, Inggris jutru memicu perekonomian negara-negara koloninya dengan membeli hasil bumi dari negara koloni dengan “harga yang masuk akal”, hal ini ternyata menimbulkan efek positif dari kapilitasme yang membuat orang jadi tambah semangat untuk lebih produktif dengan harapan akan kemakmuran yang lebih besar. Walhasil, inilah yang disebut dengan Revolusi Industri ala Inggris, dan kinipun masih diterapkan dengan suksesnya oleh negara-negara bekas koloninya, sebut saja : Singapura, Malaysia, Australia dan Hongkong.

Napoleon Merenung

Lalu bagaimana dengan umpatan Napoleon tadi ? Apa lacur, penghinaan ternyata berubah menjadi sebuah kebanggaan. Jargon “Nation of Shopkeepers” malah dielu-elukan oleh orang Inggris sebagai sebuah simbol keberhasilan dan kejayaan masa lampau mereka. Dan Napoleon ? Yah, mungkin Prancis akhirnya harus puas hanya sebagai Negara Penjajah dengan jumlah koloni terbanyak nomor dua setelah Inggris di dunia ini. Ah, mungkin di akhir hayatnya, Napoleon hanya bisa bergumam, “C’est La Vie”, begitulah hidup🙂 .