Kucing itu betina. Kucing itu belum terlalu tua. Kucing itu perutnya cekung. Kucing itu kantung susunya menebal. Kucing itu … mungkin baru pertama kali melahirkan.

Manusia itu melihatnya di atas meja ketika ia baru saja berhasil meloloskan sepotong ikan dari sebuah piring bertudung saji. Manusia itu mengganggu ritualnya, dan memaksanya melupakan perutnya yang cekung, kantung susunya yang menebal dan anak-anaknya yang mungkin dari kelahiran kali pertamanya.

Kucing itu sadar. Sadar apa yang harus ia lakukan jika ia menjadi manusia yang melihat kucing yang perutnya cekung, yang kantung susunya menebal, yang hanya bisa menebak sudah berapa kali kucing itu melahirkan; sedang di atas meja baru saja berhasil meloloskan sepotong ikan dari piring bertudung saji.

Manusia itu sadar. Sadar apa yang harus ia lakukan jika ia menjadi kucing yang perutnya cekung, yang kantung susunya menebal dan yang baru melahirkan -mungkin untuk kali pertama.

Manusia itu memandang kucing. Mulutnya yang terbungkam tak menghalanginya untuk mengesankan pesan, “Maaf, aku tetap tidak bisa memberikan sepotong ikan ini.” Kucing tidak tahu itu, tapi ia tetap tidak menyalahkan manusia. Kucing dan manusia tahu perannya, dan peran makhluk lain di alam semesta.