Akhirnya, hanya berselang 3 hari dari road trip pertama ke bedugul pada hari sabtu yang lalu, pada hari selasa kemarin ( 20 mei 2008 ) team ReturnFalse dan kawan-kawan melakukan sebuah perjalanan kembali di objek-objek wisata daripada pulau dewata ini. Perencanaan dilakukan lebih singkat pada acara kali ini, Objek yang dituju adalah pantai Nusa Dua, yang diawali dengan kunjungan ke pantai DreamLand dan GWK (Garuda Wisnu Kencana), meskipun pada akhirnya kami melewatkan kunjungan ke GWK dan Nusa Dua, GWK bahkan dilewati secara harfiah, untuk kemudian berganti haluan kepada darimana Tanah Lot untuk melihat daripada sunset, meskipun pada akhirnya kami pun melewatkan sunset di Tanah Lot.

Pagi itu hujan turun dengan deras di Kuta Bali, tiba-tiba HP berbunyi, atau lebih tepatnya bergetar karena ter-silence. “oii jadi jalan, kumpul jam 9 di depan kantor, kasih tahu yang lain” begitu kira-kira isi pesan smsnya. Namun seperti kebiasaan, perjalanan pun dimulai sekitar 1 setengah jam setelahnya. Yang berkesempatan melakukan perjalanan kali ini adalah penulis sendiri merangkap driver 1, 2 orang kurus, 1 orang gemuk merangkap driver 2, 1 orang gundul sang penunggu mobil pusaka, 1 orang tester HP, dan bapak wakil MGC sendiri.

Perjalanan ke Dreamland berjalan dengan lancar sekalipun sempat menanyakan arah jalan kepada pemilik warung padang yang sedang mamanasi motornya saat memasuki gerbang Universitas Udayana. Demi melihat peta kampus yang besar terpampang di pinggir jalan, bukannya jalan keluar yang dicari tetapi fakultas ekonomi, sayangnya di sepanjang jalan itu tidak ditemukan tanda-tanda fakultas ekonomi, ada fakultas MIPA, Matematika, Pertanian, Kedokteran Hewan, tapi tidak nampak fakultas ekonomi, dimanakah gerangan para kembang kampus itu masih menjadi misteri hingga saat ini, ow hari itu memang sedang Libur Hari Raya Waisak sih…

Sekitar 1 km dari gerbang GWK, kami terhenti di depan sebuah resor dengan patung GWK mini di depannya, setengah bertanya-tanya inikah gerangan tempat yang kami tuju, karena perjalanan ke pantai itu malah menghabiskan setengah nyawa mobil pusaka kami di jalanan yang terus menanjak sedari tadi, kami mengambil inisiatif untuk bertanya sekali lagi di sebuah toko swalayan persis di depan resor itu perihal pantai yang mana konon kabarnya banyak ditemukan banyak bugilnya itu (bugil adalah singkatan rekursif daripada bule bugil). Keyakinan kami bertambah ketika melihat serombongan anak-anak bau kencur, ketek tengik, dan bermuka mesum yang bersepeda motor beramai-rami memasuki resor tersebut, aha ini pastilah tempatnya.

Pantai Dreamland sayangnya memang indah, warna pantainya benar2 warna aqua (biru+putih+hijau) yang selama ini hanya penulis lihat di image editor, dan ketika ada 2 bule berenang dengan tertawa-tawa penulis bagaikan melihat sebuah brosur promosi sebuah objek wisata yang ada di kios-kios travel pinggir jalan, tetapi ketika menengok ke seberangnya, sudah berjejalan gerombolan pelancong yang nampaknya dari sekolah-sekolah yang sedang liburan membanjiri pantai tersebut, suasana pun berubah menjadi seperti foto-foto di album perpisahan kelas.

Pantai Dreamland, pantai dengan topografi batuan karang di sisinya sehingga munculah “legenda” itu, nampaknya akan dikelola secara profesional, mulai dari hotel dan lapangan golf yang cantik akan tersedia lengkap di sini, meskipun saat ini hal itu masih dibayar mahal dengan maraknya bangungan-bangungan yang masih dalam tahap pembangungan dan gunungan-gunungan kapur yang sudah membuat penulis dan orang gundul harus rela kehilangan sepeser harga diri karena salah naik tangga. Meskipun gagal melihat secara langsung hal-hal yang biasa berada di pita-pita film yang telah digunting oleh badan sensor film, tidak sia-sia perjalanan kesini, apalagi hanya dikenai tarif parkir saja. Menjelang siang kami keluar dari Dreamland dan dilanjutkan makan siang di sebuah warung Bandung yang sedang kekurangan tenaga karena ditinggal mudik pegawainya.

Berbekal pengetahuan seadanya tentang jalanan di Bali dan arah mata angin, mobil pun meluncur kembali ke utara, menuju ke Tanah Lot. Ketika kita berada di sebuah tempat yang kita yakin , kita tiba-tiba merasa hilang, sebenarnya hal itu sifatnya relatif karena bagi orang-orang di daerah situ kita tidak kemana-kemana, hanya tidak tahu jalan, intinya adalah kami kesasar, namun berkat insting alam dan petunjuk orang-orang di sepanjang jalan yang kami tanyai, kami menemukan petunjuk jalan dalam arti sebenarnya, Tanah Lot arah kiri.

Tanah Lot memang cantik pemandangannya dan ramai sekali dikunjungi turis domestik dan asing. Di jalan masuk kami disambut oleh para penjual baju dan kerajinan tangan yang sama sekali tidak menawarkan barangnya demi melihat wajah2 melas pegawai2 junior yang sedang bokek di akhir bulan. Objek utama jelas pulau karang yang memiliki pura di atasnya itu, ada juga jasa melihat ular suci, diterawang masa depannya, berfoto bersama ular besar, atau sekedar jalan-jalan di taman bunga menikmati pemandangan alam lukisan Tuhan tebing-tebing karang pulau Bali bagian barat dari kejauhan yang dihempas ombak laut selat Bali yang ganas, dan jika beruntung sunset pun dapat dilihat dengan cantik dari sini.

Foto, jalan kesana, foto-foto, jalan kesini lagi, foto-foto. Itulah keajaiban dunia digital jaman modern ini, kita dapat berfoto sepuas hati, kapanpun dimanapun semau kita, bagaimanapun “bagus”nya hasil foto itu, untuk mengabadikan momen ketika kita mengunjungi suatu tempat, walapun mungkin tidak tahu apa nama2 pura di Tanah Lot, bagaimana sejarahnya, apa saja kegiatannya, yang penting gambarnya itu, bukti otentik bahwa kita pada suatu masa pernah menginjakan kaki, mencuci mata, menghabiskan batere, menginjak kotoran anjing di tempat yang menjadi jujukan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, tanpa membeli cinderamata apapun…

Kembali ke Kuta, perjalanan kali ini pun diakhiri dengan makan nasi campur di warung bakso tenis. Masih banyak tempat yang belum dikunjungi, sampai jumpa di laporan road trip berikutnya, stay-tuned.

return false;