Dinginnya pagi tak lagi menggigilkan. Mentari sudah sepenggalahan naik. Tukang Koran terlihat menghentikan motornya, menaruh KR dan Jawa Pos di atas pintu gerbang terus pergi lagi. Pak Ko yang kebetulan melintas halaman depan mengambil koran itu dan membawanya ke pos ronda tak jauh dari gerbang. Tak lama pos ronda itu pun dikerubung orang. Beberapa duduk di pos, ada yang berdiri, bahkan jongkok. Kang Jayadi terlihat celingukan di teras komplek B mencari sandal tak bertuan. Tampaknya ia ingin membaca koran juga. Ia tersenyum girang menemukan sepasang sandal yang meski warnanya sama tapi kiri semua. Setengah berlari ia menuju pos ronda. Kira-kira mau baca apa dia ya?

Munir duduk di pintu ruang komputer. Bengong tak melakukan apapun. Di dalam ruang itu ada seseorang yang sedang menekuri komputer. Tiba-tiba Munir berteriak, “Sini Pe!”.

Tope yang baru keluar dari kantin tahu kenapa Munir memanggilnya. Ia mendekat sambil tersenyum. Munir mengulurkan tangannya menyambut Tope, bukan untuk menyalaminya, tapi untuk meminta gelas yang berisi teh yang masih mengepul.

“Pagiku ini menjadi lebih indah karena kamu Pe! Eh…bukan ding, karena tehmu.” Munir menyeruput teh lagi.

“Memang aku ini selalu membawa keindahan yang sangat dibutuhkan bagi makhluk yang miskin keindahan sepertimu.” sahut Tope dengan aksen Tegalnya.

Tak lama beberapa orang datang ikut ngobrol. Teh Tope yang menyebabkan mereka kumpul. Topik yang datang tak lama kemudian dengan membawa kopi hitam semakin membuat obrolan mereka lebih gayeng. Zaki dan Farid yang datang sebelum Topik semakin keras saja tertawanya. Tope duduk di samping Munir di pintu ruang komputer yang lantainya setinggi tiga puluh centi dari permukaan tanah. Farid, Zaki dan Topik jongkok di atas tanah. Gelas teh dan kopi di taruh di tanah di tengah majlis obrolan ini.

Sejenak mereka semua terdiam, kehabisan tema obrolan1.

“Eeealah, kita ini kerjaannya cuman ngumpul-ngumpul, ngobrol ngalor ngidul! Nggak jelas. Kalo melek ndobos, kalo diam tidur. Terus besok mau jadi apa hah?” Tope membuka pembicaraan lagi.

Sambil jongkok Farid menghisap rokok kreteknya. Ia menengadah, membiarkan asap sejenak memenuhi rongga paru-parunya kemudian menghembuskannya perlahan. “Mmm…aku mau jadi juragan telur. Di kampungku banyak yang ternak ayam petelur. Nanti orang-orang nggak akan menjual telurnya ke tengkulak, tapi ke aku. Aku akan memberi harga lebih dari tengkulak. Jan*uk bener para tengkulak itu. Seenaknya wudele dewe kalo ngasih harga ke peternak.”

Farid menyeruput teh.

“Setiap minggu aku bisa mengirim telur satu kontainer ke Jakarta. Disana harganya lima kali lipat lho. Terus dalam satu tahun saja aku bisa bangun rumah. Nikah, terus buat anak sebanyak-banyaknya.”

“Wuih…dasar maniak!” sela Topik.

“Rumahnya nggak perlu terlalu luas. Tapi harus cukup luas untuk memiliki halaman yang bisa buat nekeran2 anakku. Juga harus ada garasi yang bisa muat satu panther, satu sedan dan satu trek.” tambah Farid tak menghiraukan Topik dan cengiran teman-temannya.

“Treknya buat apa?” tanya Tope

“Buat ngangkut pelet pakan ayam. Aku kan juga suplier pakan ternak satu kecamatan.”

“Boleh…boleh…boleh”, Munir mengangguk-angguk.

Munir mengambil alih podium khayalan yang dibangun Farid. “Pada suatu hari nanti, aku duduk-duduk di pinggir sungai. Di tanah yang agak miring, dan di tumbuhi rumput-rumput tebal. Aku memangku laptop yang kecil. Lebih kecil dari laptopnya Zaki. Waktu itu aku sedang menulis untuk koran Tempo.”

“Ha…ha…ha…eS-eS-te3 saja nggak pernah dimuat kok mau jadi wartawan” ejek Tope.

“Itu sekarang Pe. Kau lihat saja nanti” Munir membela diri.

“Nanti aku adalah wartawan kondang yang saking kondangnya aku di daulat menjadi kolumnis di Tempo. Kolomku itu terbiat tiap hari minggu. Dan pada saat itu sudah 2 buku kumpulan kolomku yang di terbitkan. Tak selaris novel memang, tapi jadi referensi banyak orang”

“Nah, terus pas aku lagi sibuk ngetik di laptopku yang kecil dan keren, tiba-tiba ada orang lewat. Aku menyapanya, ‘Good morning’. orang itu balas mengucapkan good morning juga.”

Kopi yang tadinya pindah dari tangan ke tangan kali ini diletakkan di samping depan Munir. Semua terdiam menunggu kelanjutan khayalan Munir. Setelah menyeruput kopi itu Munir meneruskan khayalannya, “Jadi ceritanya waktu itu aku diundang ke Inggris, tepatnya London, untuk menerima penghargaan Pulitzer atas karyaku yang mengubah wajah dunia!” Munir terlihat bangga sekali dengan khayalannya.

“Ya, kau adalah orang Indonesia kedua yang menerima Pulitzer setelah Ahmad Zaki dari Bantul Projotamansari4”, Zaki menghantam telak Munir. Semua tertawa.

Giliran Topik. “Kalo aku sih sederhana saja. Nggak neko-neko, realistis.”

“Begini…” Topik benar-benar serius. “Suatu hari nanti, pas pagi hari, aku berada di belakang rumah. Duduk di kursi goyang menghadap taman yang biasa buat main badminton. Karena dingin aku make sweater sama syal. Minum kopi, ngrokok, sama metheti5 burung. Waktu itu aku sudah bertahun-tahun nggak mikirin gimana nyari uang. Soalnya aku kaya sih. Aku dah berderma kemana-mana, jadi seorang good samaritan, tapi teteeeep ada saja uang di rekening. Banyak pula. Tiap hari ya cuma di rumah. Nemeni istri yang lengket banget. Oya, istriku besok cantik.”

“Siapa? Nikmah?” potong Tope

“Amiiiinnnn!” Topik bersemangat sekali.

“Waduh, kalo istrimu Nikmah ceritamu nggak jadi realistis. Soalnya dia bisa melihat dan tidak gila.” Tope tak terima dengan khayalan Topik yang mengganggu imajinya tentang Nikmah, figur istri idamannya.

“Nggak realistis gimana? Orang seganteng diriku pantas membayangkan beristri Dian Sastro sekalipun.”

Tope nggak mendebat lagi. Hal yang semua orang tahu “benar-salah”nya -yang dalam hal ini “salah”nya- tak perlu di perdebatkan lagi. Ia teringat paribasan “sing waras ngalah6”.

Topik melanjutkan ceritanya yang terpotong, “Lha terus pas aku hampir saja tertidur di kursiku goyangku, tiba-tiba ada anak kecil berlari mendekat dan berteriak ‘Eyang…eyang…!’”

Semua tertawa dan kagum dengan daya khayal topik yang lebih jauh dari mereka.

Topik puas dengan khayalannya. Semua orang senyam-senyum menikmati sisa-sisa khayalan mereka sendiri dan orang lain sembari menunggu Tope satu-satunya orang yang belum naik ke podium khayalan.

Tope menyadari gelagat ini. Tapi ia tak bisa seterbuka teman-temannya dalam mengekspresikan perasaan. Kamu yang sedari tadi pura-pura sibuk di depan komputer tapi sebenarnya mencuri dengar pembicaraan podium khayalan menjadi sasaran bagi Tope untuk mengalihkan perhatian publik.

“Hoe…mau jadi apa kau nanti terus-terusan di depan komputer!” teriak Tope padamu.

_____________________________________________

1FYI, hal seperti itu hanya bisa terjadi pada majlis obrolan kaum Adam dan tak mungkin terjadi pada majlis obrolan kaum hawa. Tak pernah ada jeda dalam obrolan mereka. Mereka nggak pernah kehabisan bahan obrolan. Bahkan, mereka bisa membahas beberapa topik sekaligus secara paralel dalam satu waktu, dan setiap anggota paham dengan setiap topik yang dibahas. Satu lagi, kaum adam bergantian berbicara dalam satu majlis obrolan, kaum hawa tidak. Semua anggota bicara, semua anggota paham. Heran aku.

2bhs. Jawa. Artinya: main kelereng

3SST singkatan dari sungguh-sungguh terjadi, yaitu sebuah cerita nyata yang singkat dan unik yang setiap hari terbit di salah satu koran lokal di Jogja

4Projotamansari : slogan kabupaten Bantul yang artinya kota taman yang indah. Eh, orang Indonesia udah ada yang nrima Pulitzer belum to?

5Membuat burung agar bersuara dengan cara menjulurkan tangan ke arah burung itu, menempelkan ujung jari tengah pada ujung jempol kemudian menghentakkannya sehingga mengeluarkan suara. Biasanya orang yang metheti burung sambil bersiul menirukan suara burung.

6bhs. Jawa. Artinya: yang waras mengalah.