Bermain merupakan sarana yang efektif untuk menghibur di kalangan anak anak, disamping itu permainan juga dapat melatih ketangkasan anak anak sesuai permainan yang ia mainkan, untuk itu diperlukan latihan dan keterampilan khusus untuk menguasai suatu permainan. Lain dulu lain sekarang, permainan anak anak pun berubah mengikuti perkembangan zaman, anak anak sekarang lebih suka bermain mobilan remote control ketimbang mobil mobilan dengan roda kulit jeruk, merekal lebih tangkas memencet stik playstation dibanding dengan bermain egrang.
Nah, lantaran dimasa kecil gue sendiri masih mengalami permainan yang namanya benteng, petak umpet, atau bahkan mobil mobilan dari kardus rokok. kali ini gue akan membahas berapa permainan dimasa kecil yang memang bener bener asli “made in indonesia” sekaligus buat bernostal-gila lah…

1. Congklak
Congklak atau klo menurut orang jawa itu dakon *bener ga sih..*, dimainkan oleh dua orang *biasanya cewe yg main*. Alat yang digunakan terbuat dari kayu berbentuk mirip perahu dengan panjang sekitar 80 cm, lebar 15 cm. Pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. diantar keduanya terdapat lubang yg lebih kecil dari induknya berdiameter kira kira 5 cm. setiap deret berjumlah 7 lubang. permainannya, lubang lubang terebut diisi biji bijian atau kulit kerang, setiap lubang kecil diisi 7 biji2an.

Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji2an yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji bijian satu satu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri), jika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji2an lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang lubang selanjutnya.. begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Nah, pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji bijian ke lubang induk miliknya.

2. Benteng
Permainan benteng dimainkan oleh dua kelompok. Masing masing kelompok yang biasanya terdiri dari 4 sampai 8 orang memilih tempat sebagai benteng atau markasnya biasanya sebuah pohon, tiang atau pilar yang digunakan sebagai ‘benteng’. Tujuan dari permainan ini adalah untuk menyerang dan merebut benteng milik lawan dengan cara menyentuh benteng yang telah dipilih lawan dan menerikakkan kata BENTENG!!. Kemenangan bisa juga diraih dengan cara ‘menawan’ seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang menjadi ‘penawana’ atau ‘tertawan’ ditentukan oleh waktu terakhir ‘penawan’ atau ‘tertawan’ saat menyentuh bentengnya masing masing, orang yang paling dekat waktunya saat menyentuh benteng masing masing berhak menjadi ‘penawan’ dan boleh mengejar anggota lawan untuk dijadikan sebagai tawanan. Permainan ini butuh kecepatan lari dan juga strategi yang handal.

3. Petak umpet
Permainan ini dimainkan minimal 2 orang, lebih banyak orang lebih seru…, cara bermainnya sederhana, permainan dimulai dengan cara hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi ‘kucing’. Sang kucing menutup mata atau berbalik menghadap tembok atau pohon sambil menghitung dari 1 sampai 20 * klo dikampung gue bisa sampe seratus…* sementara hitungan berjalan teman yang lainnya bergerak untuk bersembunyi. setelah hitungan selesai si kucing harus mencari teman temannya yang bersembunyi. Jika ia menemukan temannya maka ia harus menyebutkan namanya sambil menepukkan (menyentuh) tanganya ke tembok tempat ia berbalik dan memejamkan mata (basecamp). Nah, ketika si kucing meninggal kan tempatnya (basecamp) untuk mencari teman teman lain yg bersembunyi, teman yang bersembunyi boleh menyentuh tempat tersebut * asal ga ketauan* sambil meneriakkan kata inggo!!, yang berarti tempat itu sudah di ambil alih , bebas lah teman teman yang sudah ditemukan dan si kucing harus mengulaingi dari awal, mulai menghitung kembali lalu, mencari teman temannya lagi yang bersembunyi.

Dalam permainan ini ada istilah yang dinamakan ‘Kebakaran’, yang dimaksud disini adalah apabila sang kucing menemukan temannya yang bersembunyi tapi salah menyebutkan nama temannya, sehingga temannya tadi boleh bersembunyi kembali di tempat yang lain…

4. Bekel
Bekel adalah sejenis permainan yang bisa dimainkan antara 2 sampai 4 anak. Permainan ini merupakan sarana mengadu ketangkasan tangan antara anak anak *biasanya anak perempuan…*. Alat yang digunakan adalah sebuah bola karet berdiameter kira kira 3 cm dan kulit kerang atau kuningan berjumlah 10 buah. Permainan dimulain dengan gamsit untuk 2 orang atau hompimpa untuk 3 orang atau lebih. Kemudaian anak yang dapat giliran bermain dengan cara melemparkan bola karet ke atas sambil mengambil kuningan yang terhapar dilantai secara bertahap dan kemudian setelah bola memantul satu pantulan bola tersebut harus diambil sambil memegang kuningan tadi.. pemenangnya adalah anak yang paling cepat sampai tahap paling akhir. Adapun tahapan dalam permainan ini bermacam macam di setiap daerah.. yang jelas di tempat gue ada tiga tahapan yang pertama tahap awal, tahap pit, tahap ro’ dan terakhir ngaspel… *apa coba isitilah nya aneh kan.. hehehe..*

5. egrang
permainan egrang dimainkan menggunakan dua potongan bambu sepanjang 2 meter dengan injakan kaki 30 cm. Untuk menjalankan egrang dibutuhkan keseimbangan badan yaitu dengan cara menaruh kedua telapak kaki pada injakan dan kedua tangan memegang tongkat bagian atas. Para pemain berlomba mencapai garis finish dengan jarak 100 – 200 meter.

6. Pati Lele
permainan Pati Lele, menggunakan dua tongkat rotan atau kayu bulat dengan perbandingan 1 : 3 untuk panjang tongkatnya. Tongkat pendek diletakkan di antar kedua batu pada posisi memanjang, lalu dipukul unjungnya dengan tongkat panjang, disusul pukulan berikutnya.
Permainan permainan tradisional diatas tidak hanya bermanfaat untuk menghibur anak anak, dan juga menguji ketangkasan, tapi juga dapat melatih anak anak bersosialisasi antara teman teman sebayanya karena permainan tersebut sebagian besar dimainkan tidak bisa sendiri, membutuhkan kelompok untuk memainkannya. Tidak seperti playstation yang bisa dimainkan sendiri, permainan ini cendrung membuat anak kurang bersosialisasi.
Sebenernya masih banyak lagi permainan permainan tradisional masa kecil yang notabene asli dari hasil karya nenek moyang kita sendiri seperti kasti atau gebokan, galasin atau gobak sodor, dor tap, bekat, kuda bisik, pam semambu dll yang bukan sekedar permainan tapi merupakan kekayaan budaya indonesia dan membutuh kan upaya pelestarian dengan cara memperkenalkan permainan kepada anak anak jaman sekarang.
Entah dimana lagikah anak anak memainkannya? tak lagi terlihat anak anak kampung bahkan anak anak kota yang bertaburan pada malam minggu ke sebuah lapangan bulu tangkis di bulan purnama hanya sekedar bermain galashin, atau berkumpul di tiang tiang rumah untuk bermain benteng…

Apakah permainan tradisional kita hanya akan jadi sebuah cerita bagi anak anak dan tidak dimainkan lagi??..

Regard

return false;